"Beruntung? Beruntung apa? Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk ini!" balas Li Wei dengan suara tinggi, matanya mulai menyala dengan kemarahan.

"Sudah, sudah, kita masih memiliki satu batu terakhir," kata tukang batu dengan tenang, mencoba menenangkan suasana.

Li Wei menatap batu terakhir dengan sepenuh hati, berharap kali ini akan membawa keberuntungan. "Ini adalah batu terakhir. Aku tidak bisa percaya jika ini juga kosong!"

Dengan gerakan lembut, tukang batu memecahkan batu terakhir. Suara retakan yang menggema membuat semua orang tegang, dan ketika batu itu terbuka, harapan Li Wei berkumpul kembali. Namun, saat debu batu menghilang, semua orang terdiam.

Batu itu juga tidak memiliki kristal roh.

"Ini tidak mungkin!" teriak Li Wei, wajahnya memerah karena kemarahan yang mendalam. "Semua ini sia-sia! Kenapa aku selalu sial?!"

Lynx dan Jelita saling berpandangan, keduanya merasakan ketegangan di udara. "Sudahlah, Li Wei. Setidaknya kita bisa mencoba lagi lain waktu," kata Jelita, berusaha menenangkan.

"Tidak! Aku tidak ingin mencoba lagi! Ini semua hanya lelucon!" Li Wei berteriak, kekecewaannya semakin mendalam. Dia merasa dipermalukan di depan semua orang, dan harapannya hancur berkeping-keping.

Kerumunan mulai berbisik, beberapa orang menatapnya dengan rasa kasihan, sementara yang lain tidak bisa menahan tawa. Suasana di pasar judi batu itu semakin tegang, dan semua mata tertuju pada Li Wei yang kini terlihat sangat kesal.

Setelah Li Wei mengekspresikan kekecewaannya, perhatian beralih kepada Jelita. Dia berdiri di samping batu seukuran bola tenis yang dibawanya, tampak ragu dan sedikit cemas.

"Yun Qing, jangan kecewa jika batu yang kamu pilih tidak ada isinya. Batu yang aku pilih saja yang lebih besar dan terlihat bagus, tidak ada isinya, apalagi batu kecil milikmu," kata Li Wei berusaha membesarkan hati Jelita.

Jelita mengangguk pelan, meskipun keraguan masih terlihat di wajahnya. "Ya, mungkin kamu benar. Aku hanya berharap ada sesuatu di dalam batu ini," katanya dengan nada lesu.

Tukang batu mengambil batu Jelita dengan hati-hati. "Baiklah, mari kita lihat apa yang ada di dalam batu ini. Siapa tahu ada kejutan," ujarnya sambil tersenyum.

Dengan perlahan, tukang batu mulai memecahkan batu tersebut. Suara retakan menggema di udara, dan semua orang menahan napas, menunggu apa yang akan terungkap. Li Wei berdiri di samping Jelita, penuh rasa ingin tahu dan sedikit skeptis.

Batu itu akhirnya terbuka, dan debu batu mulai menghilang. Semua orang terdiam sejenak, kemudian suara berdesis memenuhi udara. Di dalam batu, terdapat sebuah kristal roh kecil sebesar kelereng yang bersinar dengan cerah, dikelilingi oleh cahaya yang memancarkan aura magis.

"Ini... ini kristal roh!" teriak salah satu penonton, membuat kerumunan menjadi heboh. "Tapi, lihat! Kristal itu terlihat berbeda!"

Tukang batu yang memecahkan batu itu mendekat, memperhatikan kristal tersebut dengan seksama. "Ini adalah kristal roh langka! Kristal ini memiliki elemen api," jelasnya dengan nada bersemangat. "Meskipun ukurannya kecil, ini sudah dianggap sangat bagus karena langka."

"Elemen apa itu?" tanya Li Wei, matanya terbuka lebar karena rasa ingin tahunya.

"Kristal roh ini memiliki elemen api," kata tukang batu, menunjuk ke kristal yang bersinar tersebut. "Kristal roh dengan elemen ini dikenal sebagai elemen transformatif. Mereka dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan seseorang secara signifikan."

"Selain itu, elemen ini juga dapat digunakan dalam pembuatan senjata," lanjutnya. "Senjata yang ditingkatkan dengan kristal roh berelemen api akan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar, serta efek khusus yang bisa meningkatkan kemampuan pengguna dalam bertarung. Misalnya, senjata tersebut bisa menjadi lebih tajam, lebih tahan lama, atau bahkan bisa memberikan efek tambahan seperti membakar musuh."

Jelita tidak bisa menahan senyumnya. "Benarkah? Apakah ini benar-benar milikku?" tanyanya, suaranya bergetar antara percaya dan tidak.

"Ya, ini milikmu!" jawab tukang batu dengan semangat. "Kamu beruntung sekali!"

Kerumunan menjadi semakin heboh, semua orang mulai berbisik satu sama lain dengan rasa kagum. "Batu kecil itu ternyata menyimpan harta yang luar biasa!" seru seorang penonton.

Li Wei menatap batu Jelita dengan tercengang. "Aku tidak percaya! Batu yang terlihat biasa ini justru mengandung kristal roh langka," katanya, suaranya penuh kekaguman.

Jelita merasakan semangatnya kembali. "Aku tidak menyangka ini bisa terjadi!" ujarnya, wajahnya bersinar dengan kebahagiaan. "Ini adalah keberuntungan yang tidak terduga!"

"Seperti yang kukatakan, pilihan bagus!" kata Lynx, tersenyum lebar melihat kebahagiaan Jelita.

Semua orang di sekitar mereka bersorak, dan beberapa mulai mendekat untuk melihat kristal yang bersinar itu lebih dekat. Suasana di pasar judi batu berubah menjadi penuh kegembiraan dan antusiasme, semua orang ingin tahu lebih banyak tentang kristal roh langka dengan elemen api yang baru saja ditemukan.

Sementara itu, Ling Mei menyipitkan matanya memandang curiga ke arah Lynx. "Mungkinkah dia bisa melihat isi di dalam batu? Tapi tidak mungkin, batu itu memiliki energi khusus sehingga sekuat apapun ranah seseorang, tetap tidak bisa mengetahui isi di dalam batu roh," batinnya bingung.

Ling Mei mengamati Lynx dengan seksama. Dia tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang menggelitik di benaknya. "Ada sesuatu yang berbeda tentang dia," pikirnya. "Dia tampak tahu lebih banyak daripada yang dia tunjukkan."

Dengan rasa penasaran yang semakin mendalam, Ling Mei mendekat sedikit, berusaha menangkap percakapan antara Lynx dan Jelita. "Apakah dia memiliki kemampuan khusus yang tidak kita ketahui?" tanyanya dalam hati. "Atau mungkin dia hanya beruntung?"

Lynx, yang merasakan tatapan Ling Mei, menoleh sejenak dan tersenyum dengan percaya diri. "Apa yang kamu lihat, Ling Mei?" tanyanya, seolah bisa membaca pikirannya. "Apakah kamu merasa ada yang aneh?"

Ling Mei terkejut dan segera mengalihkan pandangannya. "Tidak ada, hanya... hanya penasaran," jawabnya, berusaha terdengar santai. Namun, perasaannya tidak bisa bohong. Dia merasa Lynx menyimpan rahasia yang lebih dalam.

"Yun Qing sangat beruntung mendapatkan kristal roh langka itu," lanjut Lynx, berusaha mengalihkan perhatian. "Kristal dengan elemen api seperti itu sangat berharga."

"Ya, aku tahu," jawab Ling Mei, masih merasa curiga.

"Tapi aku tidak bisa berhenti berpikir, bagaimana dia bisa bersikap begitu tenang? Sepertinya dia tahu sesuatu yang lebih." Batinnya.

Ling Mei memutuskan untuk tetap mengawasi Lynx, berharap bisa menemukan jawaban atas rasa penasaran dan kecurigaannya. Dia merasa bahwa hari ini mungkin akan membawa lebih banyak kejutan daripada yang dia duga sebelumnya.

Setelah kerumunan mulai tenang, beberapa orang di antara mereka mulai menawar untuk mendapatkan kristal roh langka yang ditemukan oleh Jelita.

"Saya tawarkan seratus keping emas untuk kristal itu!" teriak seorang pedagang batu yang tampak sangat tertarik.

"Tidak, aku bisa memberi dua ratus keping emas!" sahut yang lain, berusaha menarik perhatian Jelita.

"Bagaimana dengan tiga ratus keping emas?" tawar seorang penonton lainnya, matanya berbinar-binar penuh harapan.

Jelita mendengarkan tawaran-tawaran itu, tetapi hatinya bergetar. Dia mengangkat tangannya untuk menghentikan kerumunan. "Terima kasih banyak atas tawarannya, tetapi aku tidak bisa menjual kristal ini," ujarnya dengan tegas. "Ini adalah batu roh pertamaku, dan aku ingin menyimpannya sebagai kenangan."

Dengan perasaan bahagia, Jelita memutuskan untuk menyimpan kristal itu sebagai kenangan.

"Kristal roh itu sangat cantik, Kamu bisa membuatnya menjadi liontin nantinya." Kata Li Wei.

"Luar biasa, keberuntungan nona! Belum lama kita membuka judi batu ini, dan sudah ada yang berhasil mendapatkan kristal roh elemen api!" Huo Tao tiba-tiba berseru dengan semangat, tatapannya berbinar-binar penuh antusiasme. Di sampingnya, Sun Fang dan beberapa pria yang menjadi anak buahnya berdiri, wajah mereka dipenuhi rasa ingin tahu.

"Apalagi yang kamu inginkan, Huo Tao?" Li Wei memotong, nada suaranya jelas menunjukkan ketidakpuasan. Rasa jengkel menyelimuti hatinya karena dia merasa tidak mendapatkan hasil dari batu roh yang dibelinya.

"Sebagai penyelenggara acara ini, sudah sewajarnya aku, Huo Tao, memberikan ucapan selamat kepada nona yang beruntung ini," jawab Huo Tao dengan ekspresi puas, seolah-olah menyimpan alasan yang tak terbantahkan untuk mengucapkan kata-katanya.

